Model adalah
percontohan yang mengandung unsure yang bersifat penyederhanaan untuk dapat
ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan suatu proses
berurutan yang memerlukan penggunaan model secara cepat dan benar. Pentingnya
model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut:
-
Untuk mengetahui apakah hubungan yang
bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang
akan dipecahkan diselesaikan itu.
-
Untuk memperjelas (secara eksplisit)
mengenai hubungan signifikan diantara unsurunsur itu.
-
Untuk merumuskan hipotesis mengenai
hakikat hubungan-hubungan antar variabel. Hubungan ini biasanya dinyatakan
dalam bentuk matematika.
-
Untuk memberikan pengelolaan terhadap
pengambilan keputusan.
Model merupakan alat
penyederhanaan dan penganalisisan situasi atau system yang kompleks. Jadi
dengan model, situasi atau sistem yang kompleks itu dapat disederhanakan tanpa menghilangkan
hal-hal yang esensial dengan tujuan memudahkan pemahaman. Pembuatan dan penggunaan
model dapat memberikan kerangka pengelolaan dalam pengambilan keputusan.
Pendekatan konperhensif
lainnya adalah dengan menggunakan analisis system, Menurut ELBING ada lima langkah dalam proses pengambilan keputusan:
1.
Identifikasi dan Diagnosa masalah
2.
Pengumpulan dan Analisis data yang
relevan
3.
Pengembangan dan Evaluasi alternative
alternative
4.
Pemilihan Alternatif terbaik
5.
Implementasi keputusan dan Evaluasi
terhadap hasil-hasil
A. Klasifikasi model pengambilan keputusan
Mengingat
begitu banyaknya cara untuk mengadakan klasifikasi model, dibawah ini
disampaikan
beberapa klasifikasi saja. Klasifikasi model dapat dilakukan berdasarkan sebagai
berikut:
1. Tujuannya
: model latihan, model penelitian, model keputusan, model perencanaan, dan lain
sebagainya. Pengertian tujuan disini adalah dalam arti purpose.
2. Bidang
penerapannya (field of application) :
model tentang transportasi, model tentang persediaan barang, model tentang
pendidikan, model tentang kesehatan, dan sebagainya.
3. Tingkatannya
(level) : model tingkat manajemen
kantor, tingkat kebijakan nasional, kebijakan regional, kebijakan local, dan
sebagainya.
4. Ciri
waktunya (time character) : model
statis dan model dinamis.
5. Bentuknya
(form) : model dua sisi, satu sisi,
tiga dimensi, model konflik, model non konflik, dan sebagainya.
6. Pengembangan
analitik (analytic development) :
tingkat dimana matematika perlu digunakan; lain-lain.
7. Kompleksitas
(complexity) : model sangat terinci,
model sederhana, model global, model keseluruhan, dan lain-lain.
8. Formalisasi
(formalization) : model mengenai
tingkat dimana interaksi itu telah direncanakan dan hasilnya sudah dapat diramalkan,
namun secara formal perlu dibicarakan juga.
Quade
membedakan model ke dalam dua tipe, yakni model kuantitatif dan model kualitatif.
1.
Model
kuantitatif
Model kuantitatif (dalam hal ini adalah
model matematika) adalah serangkaian asumsi yang tepat yang dinyatakan dalam
serangkaian hubungan matematis yang pasti. Ini dapat berupa persamaan, atau
analisis lainnya, atau merupakan instruksi bagi computer, yang berupa
program-program untuk computer. Adapun ciri-ciri pokok model ini ditetapkan secara
lengkap melalui asumsi-asumsi, dan kesimpulan berupa konsekuensi logis dari asumsi-asumsi
tanpa menggunakan pertimbangan atau intuisi mengenai proses dunia nyata (praktik)
atau permasalahan yang dibuat model untuk pemecahannya.
2.
Model
kualitatif
Model kualitatif didasarkan atas asumsi-asumsi yang
ketepatannya agak kurang jika dibandingkan dengan model kuantitatif dan
ciri-cirinya digambarkan melalui kombinasi dari deduksi-deduksi asumsi-asumsi
tersebut dan dengan pertimbangan yang lebih bersifat subjektif mengenai proses
atau masalah yang pemecahannya dibuatkan model.
Model Perilaku Pengambilan
keputusan
1. Model
Ekonomi, yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dimana keputusan orang itu
rasional, yaitu berusaha mendapatkan keuntungan marginal sama dengan biaya
marginal atau untuk memperoleh keuntungan maksimum
2. Model
Manusia Administrasi, Dikemukan oleh Herbert A. Simon dimana lebih berprinsip
orang tidak menginginkan maksimalisasi tetapi cukup keuntungan yang memuaskan
3. Model
Manusia Mobicentrik, Dikemukakan oleh Jennings, dimana perubahan merupakan
nilai utama sehingga orang harus selalu bergerak bebas mengambil keputusan
4. Model
Manusia Organisasi, Dikemukakan oleh W.F. Whyte, model ini lebih mengedepankan
sifat setia dan penuh kerjasama dalam pengambilan keputusan
5. Model
Pengusaha Baru, Dikemukakan oleh Wright Mills menekankan pada sifat kompetitif
6. Model
Sosial, Dikemukakan oleh Freud Veblen dimana menurutnya orang seringb tidak
rasional dalam mengambil keputusan diliputi perasaan emosi dan situsai dibawah
sadar.
B. Tipe-tipe proses pengambilan
keputusan
Tipe
pengambilan keputusan ( Decision Making
) adalah tidankan manajemen dalam
pemilihan alternative untuk mencapai sasaran.
Keputusan
dibagi dalam 3 tipe:
1. Keputusan
terprogram/ keputusan terstruktur
Keputusan yang berulang-ulang dan rutin,
sehingga dapat diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama
pada management tingkat bawah . contohnya keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang, dll
2. Keputusan
setengah terprogram / setengah terstruktur
Keputusan yang sebagian dapat diprogram,
sebagian berulang-ualang dan rutin dan sebagian tidak terstruktur. Keputusan ini
sering bersifat rumit dan memutuhkan perhitungan-perhitungan serta analisis
yang terprinci. Contohnya keputusan membeli sistem komputer yang lebih canggih,
keputusan alokasi dana promosi.
3. Keputusan
tidak terprogram / tidak terstruktur
Keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang
dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjdi di management tingkat atas. Informasi
untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur tidak mudah untuk didapatkan dan
tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari ligkungan luar.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pemecahan masalah
Pada
prakteknya, proses pemecahan masalah yang kita lakukan dipengaruhi oleh banyak
faktor, baik itu yang bersifat internal (dari dalam diri sendiri dan masalahnya
itu sendiri) maupun eksternal (dari lingkungan luar). Faktor-faktor yang mempengaruhi
proses pemecahan masalah adalah:
1. Faktor
situasional, yaitu pada stimulus yang menimbulkan masalah, pada sifat-sifat
masalah, seperti sulit atau mudah, masalah baru atau lama, penting atau kurang
penting, melibatkan sedikit atau banyak masalah lain.
2. Faktor
biologis. Keadaan biologis seseorang dapat mempengaruhi proses-proses
psikologis seperti cara berpikir, berempati pada orang lain, dan sebagainya.
Misalnya manusia yang kurang tidur mengalami penurunan cara berpikir, sulit
berkonsentrasi.
3. Faktor-faktor
sosiopsikologis, terdiri dari:
a. Motivasi.
Motivasi yang rendah dapat mengalihkan perhatian, sementara motivasi yang
tinggi justru dapat membatasi fleksibilitas dalam berpikir, misalnya karena
terlalu tegang saat ujian, kita justru jadi tidak bisa mengerjakan soal ujian.
b. Kepercayaan
dan sikap yang salah. Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita. Misalnya, jika
kita percaya bahwa hantu itu ada, akhirnya kita tidak bisa berpikir jernih
bagaimana caranya keluar dari hutan, karena kita hanya terfokus pada ketakutan
kita akan hantu. Sementara, sikap yang salah juga dapat mempengaruhi proses
pemecahan masalah, misalnya sikap kita yang tidak percaya diri membuat kita
juga tidak bisa menentukan pilihan.
c. Kebiasaan.
Kecenderungan untuk mempertahanan pola berpikir tertentu atau melihat masalah
hanya dari satu sisi saja atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis
akan menghambat pemecahan masalah yang efisien dan hal ini dapat menyebabkan
kekakuan pikiran (rigid mental set). Kebudayaan di sekitar kita banyak
mempengaruhi kekakuan cara berpikir kita, karena cara kita memandang dan
mengatasi persoalan dibatasi oleh cultural setting (situasi budaya)
d. Emosi.
Emosi mewarnai cara berpikir kita, kita tidak pernah dapat benar-benar berpikir
objektif. Sebenarnya tidak masalah, namun jika emosi sudah mencapai intensitas
yang tinggi sehingga menjadi stress, akhirnya kita tidak dapat berpikir
efisien.
Selain
faktor-faktor diatas, ada lagi faktor lainnya yang juga mempengaruhi pengambilan
keputusan diantaranya:
1. Trial
& error : Coba dan salah. Cara ini merupakan metode yang paling rendah
tingkatannya, dilakukan oleh orang yang belum pernah mengalami/ mengenal dan
belum tahu sama sekali. Dalam keperawatan ini sangat berbahaya dan tidak boleh
dilakukan. Contohnya : ada klien panas, dicoba diurut, dicoba diberi makan,
dicoba ditiup, tdk berhasil dicoba diberi minum, dibuka baju, diberi kompres
sampai berhasil panasnya turun, dll.
2. Intuisi
: penyelesaian masalah dengan intuisi atau naluri/ bisikan hati. Penyelesaian
dengan cara ini kurang dianjurkan dalam metode ilmiah, karena tidak mempunyai
dasar ilmiah. Kadang-kadang metode ini
juga dapat memberikan jalan keluar bila intuisi ini berdasarkan analisis atau
pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki.
3. Nursing
process : Proses keperawatan merupakan suatu langkah penyelesaian masalah yang
sistematis dan didukung oleh rasionalisasi secara ilmiah meliputi : pengkajian,
perencanaan, implementasi dan evaluasi yang merupakan suatu siklus untuk
mengatasi masalah yang terjadi pada klien.
4. Scientifik
methode/Research Process : Proses riset/
penelitian merupakan suatu penyelesaian masalah berdasarkan hasil penelitian
dengan menggunakan logika, dengan pendekatan yang sistematis
D. Pembelian
Pembelian
adalah situasi dimana konsumen bersedia menukarkan sejumlah uangnya dengan
sejumlah produk barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhannya.
Pembelian
adalah proses penemuan sumber dan pemesanan bahan, jasa serta perlengkapan dengan
tujuan memperoleh barang dengan biaya yang sesuai dengan kualitas.
Brown dkk. (2001:132) mengatakan bahwa secara umum
pembelian bisa didefinisikan sebagai: “managing the inputs into the
organization’s transformation (production process).” Pendapat tersebut kurang
lebih mempunyai arti bahwa pembelian merupakan pengelolaan masukan ke dalam
proses produksi organisasi.
Aktivitas
dalam proses pembelian :
1. Permintaan
pembeliaan
2. Pemilihan
Pemasok
3. Penempatan
order pembelian
4. Penerimaan
Barang
5. Pencatatan
transaksi pembelian
Keputusan pembelian
merupakan kegiatan individu yang
secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian
terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual. Pengertian keputusan pembelian, menurut Kotler & Armstrong
(2001: 226) adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana
konsumen benar-benar membeli.
Ada
tiga aktivitas yang berlangsung
dalam proses keputusan
pembelian oleh konsumen yaitu ( Hahn, 2002 : 69 ) :
a. Rutinitas
konsumen dalam melakukan pembelian.
b. Kualitas
yang diperoleh dari suatu keputusan pembelian.
c. Komitmen
atau loyalitas konsumen yang sudah biasa beli dengan produk pesaing.
Menurut
Kotler ( 2002 : 183 ), perilaku
pembelian konsumen dipengaruhi oleh:
1. Faktor
budaya
2. Faktor
Sosial
3. Faktor
Pribadi,
4. Faktor
Psikologis.
E.
Diagnosa perilaku konsumen
Pemahaman
akan perilaku konsumen dapat diaplikasikan dalam beberapa hal,yaitu :
1. Untuk
merancang sebuah strategi pemasaran yang baik, misalnya menentukan kapan saat
yang tepat perusahaan memberikan diskon untuk menarik pembeli.
2. Prilaku
konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan public. Misalnya
dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan transportasi saat
lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket transportasi di hari
raya tersebut.
3. Pemasaran
sosial (social marketing), yaitu penyebaran ide di antara konsumen.
Dengan
memahami sikap konsumen dalam menghadapi sesuatu, seseorang dapat menyebarkan
ide dengan lebih cepat dan efektif.
Terdapat
tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen :
a. Pendekatan
pertama adalah pendekatan interpretif.
Pendekatan ini menggali secara mendalam
perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui
wawancara panjang dan focus group discussion untuk memahami apa makna sebuah
produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen
ketika membeli dan menggunakannya.
b. Pendekatan
kedua adalah pendekatan tradisional.
Pendekatan Tradisional yang didasari
pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial
serta dari ilmu sosiologi.Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan
metode untuk menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi
dilakukan melalui eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan mencari
pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat
keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.
c. Pendekatan
ketiga disebut sebagai sains marketing.
Pendekatan yang didasari pada teori dan
metode dari ilmu ekonomi dan statistika. Pendekatan ini dilakukan dengan
mengembangkan dan menguji coba model matematika untuk memprediksi pengaruh
strategi marketing terhadap pilihan dan perilaku konsumen.
Ketiga
pendekatan sama-sama memiliki nilai dan memberikan pemahaman atas perilaku
konsumen serta strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis
yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh
pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut.
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar